احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas
“Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas
(patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).
Bagi sebagian penuntut ilmu, kadang merasa jenuh dan malas-malasan ketika menuntut ilmu. Seperti juga jiwa yang teramat faqir ilmu ini.
Sedikit mengulik dan menelaah kenapa ulama-ulama salaf banyak menciptakan kitab-kitab terkenal dan sangat bermanfaat di zaman yang sesak dengan kemaksiatan ini.
Sebenarnya waktu ketika ulama salaf hidup dengan waktu dimana kita hidup sama-sama 24 jam iyah bukan? Tapi kenapa di jaman yang sangat canggih ini malah para ilmuwan sangat jarang dan minim. Sekalinya dia berilmu tapi pasti ada cacatnya.
Sejatinya, niat ikhlas menuntut ilmu itu puncak dari belajar. Mengharapkan taufiq dan pertolongan kepada allah, sebagai modal pertama kita dalam memulai belajar ilmu apapun itu di dikhususkan bagi ilmu agama islam.
Semangat dari para ulama salaf tidak pernah luntur, semangat menuntut ilmu, membaca, mencari ilmu dan guru, menghafal, mengkaji, mengulang dan menulis. Beliau-beliau sangat continue dalam mendalami berbagai fokus ilmu.
Padahal kita lihat bagaimana minimnya alat yang tersedia di zaman itu? Komputer, printer, handphone atau bahkan alat tulis. Belum selengkap jaman kita! Tapi semangat mengkaji dan MEMBACA sangat terlihat.
Imam Muhammad Bin Hasan As Syaibani tidak tidur malam. Dia meletakkan kitab (buku) disisinya untuk dibaca. Dia mengusir kantuk dengan air. Dia berkata “sesungguhnya tidur itu karena panas”. Ubaid bin Ya’isy (salah seorang guru Imam Bukhari) berkata “ saya tidak pernah makan dengan tanganku di malam hari selama 30 tahun. Adalah saudara perempuanku yang menyuapkan makanan ke mulutku sementara aku sibuk menulis hadits Rasul.”
Langkah pasti yang bisa kita contoh dari para ulama salaf di zaman sekarang!
1. Tajdid niat dan istiqomah
Boleh jadi di jaman kita sekarang ini, kita terlalu mengikuti kurikulum pemerintah. Bahkan kita mengistilahkan belajar untuk ujian atau sering bosan dan pindah-pindah ilmu sebelum habis dibaca. Sedikit flash back ulama salaf, apa yang beliau-beliau impikan saat belajar pada jaman dulu? Apa karena ijazah, atau ada hadiah karena sudah menciptakan banyak karya, atau mengejar beasiswa atau juga sudah mengharumkan nama bangsanya?
Berharap taufiq, bermodalkan niat ikhlas dan semangat. Beliau-beliau berhasil meninggalkan kemegahan dunia beserta isinya. Bukan lagi niat belajar karena biar bisa jadi bos, mentri, presiden. akh, itu udah basi!
Sekarang kita harus jadi agrob (paling aneh) sekarang udah ga jaman tujuan belajar maunya itu! Apalagi bagi penuntut ilmu agama. Jauhi hal itu!
Tahapan dalam hidup itu cukup 3:
- berilmu
- beramal
- berdakwah
- berilmu
- beramal
- berdakwah
Belum dikatakan kita bisa berdakwah jika kita belum mampu mendandani diri kita sendiri dengan bidang ilmu.
2. Belajar dari yang ringan
Penting bagi para pelajar memupuk sejak dini, metode serta minat baca, menghafal dan mencari guru. Karena kalau tidak dimulai dari sekarang tidak mungkin kita menyibukkan diri dengan hal yang positif.
Mulai dengan buku yang tipis dengan begitu kamu akan merasa bangga dan keenakan karena kamu berhasil mengkhatamkan buku itu. Setelah itu jangan berhenti membaca.
Mungkin sedikit perbedaan tinggal di Negara jajahan dan penjajah. Membuatku melihat perbedaan mencolok. Salah satu faktornya mungkin karena kurangnya MINAT MEMBACA! Entah kurang minat dari segi fasilitas yang kurang di kampus atau ada faktor M'
Seperti halnya maroko, negara dimana tempatku melawan kebodohan. Betapa kayanya maroko akan alamnya dan pariwisatanya. Ada argan, zaitun, sahara dan ulamanya yang chubhanallah. Tapi kendali maroko sedikit banyak masih di bawah pihak prancis. Sampai bahasa kedua mereka prancis tidak akan hilang dari bumi magribiyah ini.
3. Belajar dari yang pokok
Bagi para penuntut ilmu agama tidak dikatakan wajib tapi sunah yang mendekati wajib. Untuk mendalami al quran dan hadits terlebih dahulu. Menghafal al quran dan belajar tafsirnya. Karena dalam tafsir semua ilmu sudah muncangkupi.
Tsa’lab (seorang imam qira’ah) tidak pernah berpisah dari kitabnya. Apabila dia diundang kesebuah walimah, dia mensyaratkan agar diletakkan tempat selebar kulit domba sebagai tempat kitab yang akan dibacanya. An-Nadhr bin Syumail berkata, “seseorang tidak akan bisa merasakan nikmatnya belajar, sampai dia lapar dan melupakan laparnya.”
4. Hakikat menuntut ilmu.
Syaikh Abdul Aziz As Sadhan hafizhahullah :
فانظر إلى ما ينفعك, و الضابط ذلك : أنت
“Lihatlah mana yang bermanfaat bagimu. Dan patokan hal tersebut adalah : dirimu”
Kita sadar, setiap orang mempunyai bakat dan minat tersendiri. Karena manusia ditugaskan menjadi khalifah fil ardi, memimpin dunia ini mau dibawa kemana. Asal sejalan lurus tidak keluar dari garis islam.
Menuntut ilmu itu harus kuat menahan sakit, menahan lapar, menahan perih dan juga rindu. Yah baru 2 tahun tak menapaki kampung halaman. Banyak yang bertanya kapan pulang? Sedangkan jika baca dari kisah perjalanan menuntut ilmu para ulama sangat jauh 10x lipat perbedaannya. Gak ada apa-apanya waktu 2 tahun ini. Dan apalagi jika dibarengi dengan kesibukan yang lain. Maka jatuhnya jadi tidak fokus.
Seperti halnya menghafal quran kita butuh niat yang ikhlas, mengorbankan nikmat waktu luang dan piknik. Harus meluruskan hati tidak dicampuri dengan urusan dunia lainnya.
Sebagai penutup dalam menuntut ilmu, ketika taufiq serta hidayah sudah didapat segera niat ikhlas belajar untuk menghidupkan agama bukan kita dihidupkan dengan agama. Menghilangkan kebodohan dan agar memperbaiki pengamalan seseorang.
Rela berkorban. Berkorban waktu, uang dan kesenangan. Itu sangat penting. Membangun semangat agar tetep terus belajar, membaca dan menulis.
Para ulama salaf, mereka tak mengerti istilah kurikulum yang selalu berganti warna bagai “bunglon” seperti, CBSA, KBK, KTSP. Bagaimana dengan kondisi kita di era kontemporer dan teknologi canggih? Berapa judul kitab (buku) yang telah kita hafal dan telaah? Berapa karya ilmiah yang telah kita lahirkan?
Komentar
Posting Komentar