Kali ini kita akan membahas yang sedang hangat-hangatnya terjadi yang jadi breaking news hari ini. Banyak dari kita yang tahu apa arti sosial media, tapi banyak juga yang tidak tahu cara memanfaatkannya. Sampai saat ini mungkin saya sendiri masih terlalu takut untuk terlalu jauh tenggelam dalam sosial media. Sering kita tahu sosial media, jadi bahan bersenang-senang personal dan jauh dari itu media sosial banyak juga memberikan manfaat dan kemudahan. Dengan peran media sosial kita bisa melakukan kegiatan bisnis, berdakwah dan menyambung tali silaturahmi.
Dari Abu Ayyub al-Anshori radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku akan amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan diriku dari api neraka.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabda beliau:
تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.
"Engkau beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahmi. (HR. Bukhari 1396 & Muslim) Itulah sebagian dampak positifnya dari keberadaan media sosial, dan masih banyak yang lainnya.
Tapi jauh dari itu kita harus aware dengan sosial media sendiri yang hendaknya kita harus memfilter dan memilih agar jangan sampai pengguna media sosial malah menjerumuskan dan menjadi tabungan dosa kita di akhir nanti.
Dan tidak jarang lagi pengaruh dari sosial media sering kali terjadi pelaku penipuan, penculikan bahkan pemerkosaan. Dan tidak sedikit pula, dari kita yang mengupdate status bahkan menulis artikel tentang masalah pribadi, keluarga, teman atau kehidupan di sekelilingnya. Mana dari kebanyakan mereka mengupdate itu bertujuan membuka aib diri sendiri atau mencari attention dari si pembaca itu. Yang seharusnya orang lain tidak tahu bahkan tidak bersuudzon kepada yang dicurhati tersebut.
وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat” (Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi).
Memang benar pada dasarnya, teman-teman yang mengupdate dengan niat baik agar beritanya sampai ke pengikutnya atau pembacanya dan menjadikan pelajaran atau peringatan dengan apa yang menimpa pada dirinya khusus bagi para pembacanya. Itu niatan yang mulia sekali. Memang kebanyakan dari pengupdate menyamarkan nama si objek dengan demikian pembaca yang kenal kepada pengupdate akan mencari tahu siapa yang sedang di keluh kan. Dan celakanya kalau para pembaca menebak-nebak kepada orang yang salah itu akan menjadikan fitnah dimana-mana.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari pra-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(Al-Hujurat. 12)
Karena pada hakikatnya dalam Al Quran hanya sekitar 30 % berisi tentang akidah dan ibadah mahdoh yang sudah pasti kewajiban dan larangannya. Selebihnya itu adalah tentang akhlak, hukum-hukum, tadzkir, kisah-kisah dan juga dorongan untuk berpikir. Banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran manusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.
Tidak dipungkiri, di zaman modern ini kita tidak bisa hidup terlepas dari peran media sosial. Dari kalangan tua muda, sampe kakek nenek pun paham itu insta story dan bbm-an. Dan dari semua sarana media sosial itu, banyak memberikan manfaat maupun mudhorot bagi kehidupan manusianya.
Dalam hal berhikmah di media sosial kadang kita juga harus tahu bagaimana cara berdakwah yang benar dan tepat untuk disampaikan kepada setiap orang. Yang ringan dan tidak membuat orang ilfeel. Kita ambil analogi ketika ada perempuan yang masih belum memakai kerudung. Seringkali ada gambaran dakwah di media sosial atau akun persionalnya si perempuan ini. Dan kadang caranya kurang mencerminkan nilai islam itu sendiri. Islam selalu mengajak kita kepada kebaikan dengan cara yang baik pula. Sementara banyak pendakwah yang bagus niatnya, tapi selalu mengiming-imingi orang yang tidak mematuhi perintah agama dengan neraka. “kok sampe sekarang nggk ditutup auratnya? Emang udah siap nanti dibakar sama api neraka?”. Apa tanggapannya orang yang kita dakwahi itu? Dia jatuhnya akan ilfeel dan membuat stereotip kalau orang religious itu hanya bisa menakut-nakuti dengan Allah Subhanahuwata’ala itu Maha perkasa (Al ‘Aziz), mengatur (Al Muhaimin), memaksa (Al Qahhaar), mengawasi (Ar Raqiib) dan masih banyak lagi. Padahal identitas pokok selalu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan lafadz Bismillahirrahmannirahim Allah Subhanahu wa ta’ala, Allah Subhanahu wa ta’ala maha pengasih lagi maha penyayang. Dan juga seorang muslim sendiri melakukan ini itu dan menjauhi ini itu semata-mata karena perintah dari Allah Subhanahu wa ta’ala dengan dilandaskan keimanan bukan ketakutan.
Tapi jauh dari itu ketika kita ingin berdakwah di media sosial kita harus memerlukan bekal ilmu dan pemahaman yang benar. Karena banyak dari kaca mata dunia maya hari ini, banyak yang berdalil dan mengeluarkan argumennya biduuni ilm. Ketika orang merasa argumennya benar atau melihat satu referensi dalil niscaya ada saja yang langsung percaya dan langsung bisa menjudge bahwa dirinya itu tuhan (paling benar). Maka dari itu semua hal butuh ilmunya. Karena setiap gerak gerik kita akan dipertanggung jawabkan nanti.
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.
‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.’” Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmi, bab Kaifa Yuqbadhul ‘Ilmi (I/194, al-Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan (XVI/223-224, Syarh an-Nawawi).
Seperti dalam cara berdakwahnya Ust. Nouman Ali Khan, di sana beliau menceritakan bagaimana Al Quran bisa men-transform manusia dan bagaimana cara Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menyampaikan isi kitab ini kepada para umatnya.
Ada 4 langkah berdakwah yang dilakukan oleh beliau :
1. 1. Memperkenalkan Al Quran untuk menunjukan kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala dibacakan ayat-ayat Al Quran supaya orang tersebut bisa mendapat sense kalau kitab ini tidak mungkin ditulis oleh manusia.
"serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)
s 2. Setelah ditunjukkan kehebatan Al Quran, maka hati manusia akan menjadi bersih. Terjadi perbedaan dikala kita hanya sanggup membaca tapi tidak mentadabburi arti yang terkandung dalam Al Quran atau lebih afdoholnya melihat tafsir Quran. Maka hati manusia akan menjadi bersih dan dipenuhi iman.
3. 3. Setelah terbentuknya iman, terbentuk pondasinya, barulah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berlanjut ke langkah mengajarkan law atau aturan-aturan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan dituliskan di Al Quran. Allah Subhanahu wa ta’ala mengajarkan Rasul menitipkan pesan akan perintah dan larangan. Jika iman yang sebenar-benarnya tidak terkontaminasi dengan unsur jahat dan sudah terpatri di hati, maka memudahkan manusia untuk lantas menerima itu semua.
4. 4. Setelah itu barulah Rasululllah menyampaikan wisdom yang ada di Al Quran mengajarkan sebatas law aja tidak cukup. Karena islam bukan hanya sekedar aturan tapi juga tentang kearifan. Wisdom inilah yang menjadi pengingat kita semua, sebanyak apa ilmu yang sudah kita kuasai dan surat yang kita hafal kita tetap fakir ilmu. Wisdom inilah yang akhirnya merangkum what quran is actually about. It’s not just a holy book. But it’s something that can transform us.
Komentar
Posting Komentar