Tengkyu sidi Ihsan yang telah membuka cakrawala saya akan ketidakniscayaan sosok perempuan dengan ambisi yang menggebu-gebu dan sejatinya ia pasti merindukan sosok laki-laki yang akan berada di sampingnya menikmati masa tua bersama dengan anak-anak yang berada di sekelilingnya. Yah begitulah hidup tidak bisa sukses dan bermartabat di semua tempat. Ketika kita mencari wajah manusia, benar janji Allah kau akan menjadi hina dina. Dunia yang menjadi tujuan dan cita-cita terbesar. Kepopuleran, jabatan, harta dan keluarga terpandang nan bahagia sebagai jargon hidup sempurna yang bisa didapat dengan menggunakan logika dan semata-mata karya buah tangan pribadi. Mustahil.
Pernikahan dan semua itu dibangun dengan kerja sama dan saling mengalah. Bukan keegoisan yang terlahir dari setiap pasangan. Karena sejatinya setiap pasangan harus ada yang berkorban mengabdikan dirinya di dalam rumah. Bukan berarti mereka kalah tapi mereka tau batas porsi setiap jiwa dari salah satunya. Dan sejatinya juga agama sebaik-baik tempat kembali. Tidak selalu nilai nasionalisme jadi acuan.
Dan disini ku belajar dari Bu Ainun, ketika beliau juga mumpuni menjadi figur utama dari pernikahan, disini letak kodrat perempuan memainkan perannya. Sebelumnya Pak Habibie dengan bijaknya melemparkan tawaran, "Nun, aku tau kamu bisa mendapatkan semua dengan caramu. Tapi aku melihat disini kita memainkan peran menjadi pemimpin tidak ada yang menjalankan perintah pimpinan dan mengkordinir jalannya hubungan saling melengkapi. Jika kamu mau aku siap di belakangmu dan mendukung langkahmu" seketika Bu Ainun terdiam, beri aku waktu.
Selang beberapa bulan Bu Ainun hamil, ia menjawab "Di dalam rahim ini ada anak yang aku kandung. Ini anak kita dan aku yang akan kelak melahirkannya. Oleh karena itu kamu yang maju biar aku akan di rumah. Tapi janjilah kepadaku...."
Pak Habibi menjawab, "Jadikan saya suamimu yang kamu idam-idamkan, dan berikan kesempatan kepada saya menjadikan kamu istri yang saya idam-idamkan untuk hal itu tidak ada rahasia antara kita. Masa lampau adalah milikmu dan milikku tapi masa depan adalah milik kita bersama, Eyang HabibieIndah Bukan :)
Sejatinya perempuan sosok yang kuat di hadapan banyak orang, apalagi anaknya kelak. Tapi ketika dia sedang berada di dalam rumah duduk asyik mengobrol dan berhadapan dengan pasangannya. Ia akan kelak memainkan peran lemah. Sisi lemah ia dominasikan karena dia tahu porsi yang tepat untuk saat ini untuk pasangannya. Kodrat perempuan dan pemimpin dirinya sendiri hadir bukan untuk mengungguli pasangan, tapi untuk melengkapi dan membuat jiwanya sendiri merdeka. Bukan untuk mau mengalahkan pasangan yang di ceritakan oleh Suad di dalam novel ini.
Perempuan Muslimah belajar akan tata krama dan sopan santun berhubungan dengan pasangannya. Ia tahu dia bisa saja lebih pintar, unggul dalam materi, bisa membangun relasi seluas mungkin dan juga jabatan yang cemerlang. Tapi, kita diajarkan ridho dan pahalan-Nya bersama dengan keridhoan pasangan juga. Oleh karena itu, bersikap penyayang, lembut dan menghangatkan perlu sebagai wanita. Alhamdulillah ku belajar banyak dari segala pengalaman, bacaan dan kehidupan seseorang. Mengajarkanku untuk lebih bisa bijak mengambil peran akting dan juga tetap fokus pada mimpi. Menemukan pasangan yang membuat kita nyaman dan membuat kita belajar banyak terus-menerus. Asal mau sama-sama berjuang, percaya dan komunikasi. Jujur dengan diri sendiri mau terus belajar dan berubah untuk menjadi kebanggaan bagi pasangan masing-masing.
Aku tau aku belum pantas membicarakan ini tapi aku tau aku harus belajar sejak dini. Lewat bacaan ku dalam tulisan dan kehidupan. Membuka pandanganku akan setiap orang punya kaca matanya masing-masing dalam memaknai hubungan. Mereka mempunyai seni bercinta masing-masing, dan ku hargai itu. Entah mau di bawa kemana akhir dari kehidupan setelah aku dan kamu menjadi kita yang di dunia dan kelak bergandeng tangan di akhirat. Is simple
Beberapa kutipan dari novel ini, yang membuat minus kacamataku berkurang hahah:
Mereka datang, tetapi aku selalu menolaknya karena dengan menerimanya aku merasa masih menjadi manusia biasa. Aku menolak mereka mungkin juga karena mereka, laki-laki yang datang, tidak ada yang mampu membawaku menjadi manusia luar biasa seperti keinginanku.
Dia sungguh berbeda dariku tetapi aku menemukan kenyamanan bersamanya. Kenyamanan, bukan cinta. Mungkin aku merasa nyaman karena dia menawarkan warna lain. Aku lari dari warna hidupku dan nyaman ke dalam warnanya. Dia lari dari warnanya dan menemukan kenyamanan dalam warnaku. Aku terus berpikir. Bagiku pernikahan harus dibangun di atas pertimbangan logika, bukan perasaan. Dan sudah menjadi kebiasaan logika akalku untuk mempelajari sesuatu sedetail mungkin.
Aku sendiri tidak tahu apakah aku menginginkan anak atau tidak menginginkan anak. Aku tidak ingin segera menjadi bapak dan tidak menolak untuk menjadi bapak. Bagiku, anak adalah hadiah istri kepada suaminya. Aku berterima kasih bila kamu memberiku anak. Aku juga berterima kasih bila kamu belum memberiku anak sebab dengan demikian kamu telah ikut menjagaku selalu terlihat muda dan tidak memberiku sebutan "Bapak" yang membuatku tampak lebih tua dan semakin renta
Aku telah bereksperimen dengan meyakinkan bahwa rumah tangga harus dibangun atas kesempurnaan hadirnya seorang anak. Tetapi ternyata gagal. Perkawinan adalah penyatuan jiwa dan raga. Kepribadian dan logika. Perkawinan tidak bisa dibangun dengan dua metode yang berbeda, suami dengan caranya dan istri dengan caranya sendiri. Harus hanya ada satu cara yang digunakan. Keduanya harus berjalan di jalan yang sama. Padahal masing-masing kita tidak bisa menerima cara kecuali yang selama ini telah kita jalani. Perkawinan juga merupakan proses mendirikan bangunan. Kita berdua harus saling dukung dalam membangun. Terus terang, kamu belum membantuku untuk mendirikan bangunanku. Aku juga mengakui belum banyak membantumu untuk menemukan citramu. Aku sendiri sampai saat ini belum berhasil mendapatlan gelar doktorku
Aku takut kamu hanya memaknai cinta sebagai pengisi waktu luang. Saat kamu sedang senggang, kamu baru mengisi waktu dengan cinta. Aku tidak pernah memiliki waktu luang, maka bagaimana kita bisa bersama? Bagiku, cinta adalah penopang untuk membangun. Sementara kita tidak sedang membangun
Posisi dan jabatan tidak bisa menjadikanmu wanita besi yang dengan mudah mengibarkan bendera konfrontasi dengan suamimu untuk menentang keputusan cerai. Prestasi apapun juga tidak bisa membuat suami menjadi lemah sehingga kehilangan hak untuk menceraikan istreinya.....
Yang membuatmu berang adamah karena aku yang memutuskan perceraian, bukan kamu. Aku yakin, sebenarnya kamu berulang kali berniat untuk meninggalkanku dan meminta cerai. Yang membuatmu bertahan bukanlah kebahagiaanmu atas kepribadianku dan hubungan kita secara umum. Kamu bertahan semata untuk menjaga image diri dan nama baik
Kamu tidak pernah menjadi korban. Bahkan perceraian itu akan menyelamatkanmu dariku. Menyelamatkanmu dari pengaruh dan dominasiku. Perceraian itu akan memberimu banyak waktu untuk mengembangkan kepemimpinanmu. Percayalah, perceraian itu kuputuskan untuk maslahat-mu
"Perkawinan adalah memberikan sesuatu dan aku tidak memiliki apa-apa untuk ku berikan kepadamu"
"Aku tidak mengerti maksudmu"
"Aku telah mencoba menjalani perkawinan dan aku menyimpulkan bahwa yang dibutuhkan laki-laki dan istrinya adalah memberikan waktu sepenuhnya kepada urusannya dan urusan rumah tangga. Aku tidak bisa memberikan waktuku sepenuhnya untuk hubungan suamui istri dan rumah tangga."
"Aku yakin bahwa kita berdua sama-sama sedang membohongi diri"
"Kita sama-sama sedang saling menjerumuskan diri. Kita gigih memperjuangkan urusan orang banyak tetapi tidak pernah punya kepedulian terhadap urusan kita sendiri. Bagaimana kalau kita juga mulai mengurusi diri kita dalam ikatan yang khusus? Kita bentuk organisasi yang anggotanya hanya aku dan kamu?
Aku tahu kamu berusaha lari dariku, dan aku lari darimu. Kita menjalani hidup dengan terus membohongi diri sendiri
Aku tidak ingin kita hanya cukup berbahagia atas pernikahan kepribadian, logika dan pemikiran
Butuh waktu khusus dan konsentrasi penuh dalam mendidik anak. Jiwa dan raga waktu rela dikorbankan. Karena kita sebagai ibu yang melahirkannya. Maka bertanggung jawablah!
Maaf atas setiap hati yang pernah tersakiti :)

Komentar
Posting Komentar